Peradaban Islam Dimasa Depan

Tags

BICARA tentang Islam memang tidak hanya bicara aspek normatif semata (Al-Qur’an dan Al-hadits), karena kajian historis Islam membuka ruang bagi munculnya pemahaman baru bagi konsepsi-konsepsi populer semisal demokrasi, HAM, supremasi sivil, dan seterusnya yang sesungguhnya sangat kompatibel terhadap landasan nofmatif Islam.
Dengan kata lain, teori-teori dan diskursus peradaban (Civilization) yang mewarnai dinamika intelektual kita hari ini dalam praksisnya pernah dipercontohkan oleh Rasulullah SAW ketika memimpin negara Madinah Al Munawarah.
Sejarawan Islam Ibnu Khaldun menggunakan istilah “Umran Hadharoh”, untuk menjelaskan peradaban, dan juga untuk membandingkan dan membedakan masyarakat nomaden yang sering berpindah-pindah dengan masyarakat kota yang menetap tinggal di suatu tempat dan membina sebuah peradaban.

Peradaban Islam Dimasa Depan

“Hadharoh” diterjemahkan sebagai kemajuan peradaban. Menurut Will Durant peradaban adalah sistem sosial yang dengannya membantu manusia dalam meningkatkan produksi kebudayaannya, ia juga membedakan antara peradaban (civilization) dan kebudayaan (culture) bahwa yang dimaksud dengan kebudayaan adalah hasil dari pemikiran manusia yang tertuang dalam bentuk apapun.
Beberapa filosof menetapkan ada beberapa yang menjadi unsur-unsur peradaban yaitu sumber daya ekonomi, sistem politik, moral dan tradisi, dan kebersinambungan ilmu pengetahuan dan seni.
Setiap peradaban memiliki tubuh dan jiwa tidak ubahnya seperti manusia. Tubuhnya adalah keberhasilan-keberhasilan materiilnya berupa bangunan, industri, dan peralatan, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan kemakmuran hidup dan kesenangan duniawiyah.
Sedangkan jiwa peradaban adalah seperangkat ideologi, konsep, tata nilai, moralitas, dan tradisi yang tercermin dari perilaku individu dan kelompok, interaksi antara individu atau kelompok dengan yang lainnya; dan pandangan mereka tentang agama dan kehidupan, alam dan manusia, serta individu, dan kelompok.

Peradaban-peradaban besar yang dikenal oleh manusia, mempunyai ragam yang berbeda dari yang satu dengan yang lainnya dari sudut sikapnya terhadap materi dan mental spiritual. Ada peradaban yang lebih menonjol sisi materiilnya daripada sisi spiritualnya.
Sementara peradaban yang lain lebih menonjol sisi moril spirituilnya dari pada sisi materiilnya. Dan selebihnya ada yang mempunyai keseimbangan kedua sisi moril spiritual dan materiilnya.

Sejarah Peradaban Islam
Franz Rosenthal, seorang sarjana Barat yang menterjemahkan buku Muqaddimah Ibnu Khaldun ke dalam Bahasa Inggris, menulis bahawa tamadun atau peradaban Islam, yang dirujuk kepada Andalus, bukan sebuah peradaban karena kekuatan tentara, keluasan wilayah, dan penduduk yang besar; tetapi karena kekuatan ilmu atau knowledge triumphan.
Islam secara normatif mempunyai sifat-sifat kemajuan peradaban karena Islam datang bersama sifat-sifatnya yang positif, yang tidak mungkin bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal (liberatif dan emansipatif), seperti liberal, toleran, anti kekerasan, adil, anti eksploitasi, egaliter, plural, dan lain-lain.

Hal ini terlihat dari konstruksi peradaban yang dibangun Rasulullah ketika memimpin negara Madinah Al-Munawarah. Sebuah negara kota yang membangun Peradaban bukan dari dominasi mayoritas apalagi kekuatan tentara penduduk, melainkan hasil kompromi politik antar suku untuk hidup bersama secara damai.
Sebuah peradaban dimana keadilan ditegakkan tanpa represi negara (karena belum ada birokrasi), perdagangan yang berlangsung tanpa penghisapan, serta pluralitas suku dan agama yang hidup berdampingan.

Sepeninggal Rasulullah SAW, Islam dipimpin oleh Khulafaurrasyidin. Pada masa kehalifahan ini teritorial Islam mengalami perluasan yang menakjubkan. Wilayah kekaisaran Romawi dan Yunani yang menolak terus menerus dieksploitasi secara cepat dibebaskan dan menjadi imperium Islam.
Pascakekhalifahan, kekuasaan Islam berpindah-pindah sebagai konsekuensi politis dinasti Muawiyah ke Damaskus dan Abbasiyah ke Bagdad. Pada era ini pun dimensi ilmu secara menyeluruh, kebudayaan, pemikiran, ekonomi, kesenian dan sebagainya mendapat hak yang secukupnya.
Maka lahirlah pencipta besar, pemikir kreatif dunia Islam seperti Al-Khawarizmi, ahli matematik yang ulung; Ibnu Sasawayh, dokter pakar diet; Al-Fargani, ahli astronomi; Tsabit bin Qurrah, ahli geometri; Ar-Razi, dokter penemu penyakit cacar dan darah tinggi; Az-Zahrawi, ahli bedah; Al-Khazin, ahli matematik; Ibnu Haytham, ahli fisika; Al-Biruni, tokoh astronomi; Ibnu Sina, dokter; dan banyak lagi penemu yang lainnya.

Kemegahan peradaban Islam berakhir dengan serbuan tentara Mongol pada pertengahan abad ke-13 yang meluluh lantakkan kota Bagdad, seiring dengan tumbuhnya benih-benih kebangkitan kembali Eropa dengan ‘renaisance’nya.
Sementara Islam memasuki masa-masa zaman kegelapan sampai pada awal abad ke-19. karena hampir sebagian besar daerah kekuasaan Islam telah menjadi daerah kekuasaan imperialisme bangsa Eropa sebagai wujud dari ‘kebangkitan’ Eropa.
Selain serbuan tentara Mongolia dan perang salib, serta perpecahan di antara para pemimpin negara, untuhnya peradaban Islam klasik menjelaskan kepada kita betapa ketika artikulasi keagamaan diinstitusionalisasikan dalam kebijakan negara, maka yang terjadi adalah monopoli kebenaran atas nama negara.

Kisah Ahmad ibnu Hanbal ketika menentang pemikiran Khalifah al-Makmun tentang al-Qur’an (Mahluk), kemudian dianggap menyimpang dari negara adalah kisah tragis pemasungan kebebasan berpikir. Problem mendasar inilah yang telah melemahkan peradaban Islam, dengan cirinya sebagai peradaban ilmu (knowledge triumphan).

Masa kegelapan Islam baru berakhir dan memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan pada awal abad ke-19. Seiring dengan lahirnya tokoh-tokoh pembaharu Islam dan berbagai gerakan Islam di dunia Arab. Pertama, gerakan muncul di Mesir dengan tiga tokoh, yaitu: Jamaluddin al-Afghani berkebangsaan Afghanistan dijuluki sebagai ‘tokoh Renaisance Islam’, Muhammad Abduh yang berkebangsaan Mesir bercita-cita terwujudnya kejayaan dan kemuliaan umat Islam di negeri manapun, serta Rasyid Ridho dan Muhammad Iqbal.
Walaupun sebelum mereka sudah terlebih tumbuh benih-benih kebangkitan melalui tokoh-tokoh seperti Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab dengan gerakan wahabi-nya (Islam murni).
Gerakan pembaharuan Islam ini secara langsung juga mempengaruhi lahirnya gerakan Islam yang serupa di banyak negara Muslim seperti Indonesia yang ditandai dengan lahirnya gerakan moderenisme.
Masa Depan
Peradaban yang dimiliki oleh zaman modern ini yaitu peradaban barat, adalah satu sosok peradaban yang tak bisa dipungkiri yang mana mempunyai ciri menghormati kebebasan manusia, khususnya di dalam negerinya.

Memberi kebebasan seluas-luasnya bagi kecenderungan dan sumber daya manusianya sehingga mampu menaklukkan “alam” untuk dimanfaatkan dan meledakkan kekuatan nuklir untuk kepentingan dirinya, mampu terbang di angkasa seperti layaknya burung.
Mampu berenang dalam laut seperti layaknya ikan, mampu menempuh jarak di atas bumi yang sangat jauh dengan kecepatan tinggi seperti layaknya satelit, bahkan mampu mempelajari angkasa luar hingga sampai ke luar galaksi kita.
Sampai pada revolusi biologi dan revolusi ilmu pengetahuan sehingga mampu menciptakan alat yang sangat menakjubkan yang mampu memudahkan bagi manusia untuk menyiasati waktu dan daya pikirnya yaitu komputer.

Penemuan-penemuan itu berkat kemajuan ilmu pengetahuan manusia yang dipakai dan diaplikasikan dalam teknologi. Meskipun keberhasilan upaya manusia untuk menemukan sarana dan prasarana yang demikian canggih, ternyata yang menjadi kenyataan berbicara lain.
Bahwa peradaban ini belum memberikan kebahagiaan yang diharapkan atau ketentraman yang diidamkan. Sebab peradaban ini ibarat jasad yang ruhnya bebas akan nilai dan tak berorientasi transendental. Kekurangan peradaban modern inilah yang merasuk ke dalamnya “materialisme pragmatis” yang membuat kita berkata bahwa itu adalah jiwa peradaban Barat dan inti ideologi menjadi karakternya, yaitu sisi-sisi yang harus diberi pencerahan dan muatan.
Problem ini pula yang menjadi persoalan mendasar di negara-negara Muslim sebagai penganut ideologi kapitalis objek. Narkotika dan obat terlarang, kejahatan, kemiskinan, kesenjangan ekonomi, menjadi pemandangan umum dibanyak negara Muslim.

Nilai barat yang sesungguhnya tidak kompatibel dengan Islam diserap sedemikian rupa sehingga menyebabkan terjadinya ketegangan dibanyak Negara muslim. Konsekuensinya adalah menguatnya kelompok fundamentalisme Islam sebagai respon atas ketidakadilan timur-barat, yang dasarnya liberalisme kapitalisme, dan kemajuan teknologi yang lepas kontrol nilai.
Namun sebagian umat Islam memberi respon moderat atas ketegangan ideologi tersebut. Perlawanan ideologi secara revivalis tidak akan meruntuhkan ideologi kapitalisme liberal, melainkan hanya akan mengalienasi kelompok fundamentalis dari arus utama gerakan Islam.
Pencerahan dunia Islam melalui pendidikan dan pengentasan kemiskinan merupakan jawaban paling realistis, disamping penguatan kebudayaan Islam yang populis di ruang publik (public spare) umat Islam. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih humanis merupakan tawaran terbaik sebagai anti tesis keringnya ideologi kapitalisme.

Konstruksi peradaban inilah yang tak dimiliki kapitalisme liberal; liberatif dan emansipatif. Konflik dan pergulatan peradaban Barat dan Islam sempat “membeku” dengan munculnya peradaban sosialis-komunis yang saat itu direpresentasikan oleh Uni Soviet dan China. Namun, setelah ambruknya kekuasaan Uni Soviet (1992) yang ada di hadapan peradaban Barat adalah peradaban Islam.
Itu berarti Islam menjadi batu sandungan yang sangat tajam dan bisa menjegal kepentingan-kepentingan Barat-kapitalis, saat ini Amerika Serikat sebagai komandannya dan mampu menjadi potensi yang mampu menggusur serta meluluhlantakkan peradaban Barat di masa depan.
Gerakan kembali kepada Islam yang seringkali diartikulasikan sebagai Gerakan Kebangkitan Islam biasa tampil dengan slogan: “Kembali kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah”. Tetapi walau dengan slogan yang sama, mengapa wujud kebangkitan tersebut berbeda-beda? Inilah yang menjadi tantangan bagi umat Islam. Apakah mereka bisa mewujudkan kebangkitan tersebut yang mana akan menentukan prospek masa depan.

Gerakan kebangkitan terutama bersifat intern, pribumi, positif, dan ideologis, yang berlangsung di tengah masyarakat Muslim. Ia harus berhubungan, dan bahkan mungkin berbentrokan dengan kekuatan-kekuatan yang ada di gelanggang internasional.
Masa depan peradaban Islam ditentukan faktor-faktor yang sangat mendasar sekali. Apabila kita tidak mencermati dengan apa yang terjadi dan memprediksikan dengan apa yang akan terjadi, maka keberadaan peradaban Islam akan terancam hancur terkikis oleh pengaruh Barat yang dominan dalam berbagai segi atau dalam berbagai hal.

Malik bin Nabi (1905-1973), pemikir gaya Ibnu Khaldun, dari Aljazair, pernah mengajukan formula “kebangkitan Islam” yang sederhana: “Kaum Muslim kembali ke sumber utamanya, Al-Qur’an dan Hadits, sambil mengambil berbagai unsur yang baik dari luar”, dan kemudian “memasukkan unsur lain ke dalam pohon yang kita tanam, agar ia unggul tanpa kehilangan aroma dan rasa aslinya”.(*)
Oleh;
Rais Tomo
Mahasiswa BSA Pascasarjana UIN Alauddin Makassar/ Ketua Umum PC IMM Gowa Periode 2014-2015
Sumber : http://makassar.tribunnews.com/2015/11/27/islam-dan-masa-depan-peradabannya